Sabtu, 04 April 2015

Gudang Hijau Peninggalan Jepang



Gudang Hijau Peninggalan Jepang

Tanjungunggat (NHY) - Siapa sangka gedung hijau yang berdiri kokoh di kawasan Tanjungunggat ini dulunya dikelilingi laut dan hutan bakau. Warga asli yang mendiami daerah tersebut juga sekarang sulit dicari karena sudah berganti generasi. Gudang hijau pada awalnya adalah sebuah gedung berwarna hijau yang didirikan oleh orang Jepang (yang hingga kini tidak diketahui namanya). Gudang tersebut didirikan di atas tanah leluhur salah seorang ketua RT yang bernama Edi Nafianto. "Tidak jelas siapa yang punya. Bayangkan saja sudah berapa lama. Dulu waktu saya lahir 53 tahun yang lalu, gudang itu sudah ada dan dipakai," sahut Pak Edi, sapaan akrabnya.

Gudang Hijau telah berdiri sangat lama, saat Indonesia masih menggunakan mata uang sen. "Zaman dulu orang tua-tua belum kenal baca tulis. Jadi tanah seenaknya saja dimanfaatkan orang yang berkuasa," tukas Pak Edi, sapaan akrabnya. Menurut kepercayaan, daerah Gudang Hijau merupakan kawasan angker yang dihuni oleh sesosok jelmaan laki-laki hitam tinggi. Konon, tingginya menyamai Gudang Hijau tersebut. Selain banyaknya warga yang melihat penampakan, ada juga sesekali yang hanya lewat dan kena 'teguran' makhluk halus. Maryam, istri Pak Edi yang juga membudidayakan apotik hidup di depan Gudang Hijau menambahkan, "Dulu selepas maghrib, tak pernah ada orang yang berani lewat di depan Gudang Hijau,". Pak Edi juga merasakan kehadiran makhluk lain yang ikut menjaga Gudang Hijau itu yaitu sosok wanita yang memilik rambut sangat panjang. Apabila rambutnya terurai, panjangnya sudah setinggi Gudang Hijau. Belum lagi jika ia berdiri dan menampakkan wujudnya, seperti raksasa. Warga sekitar mempercayai bahwa keberadaan makhluk yang menghuni di dalam Gudang Hijau tidak bermaksud untuk mengganggu warga. Mereka hanya bagian dari penjaga yang menginginkan Gudang Hijau tetap asri dan terawat. 

Lanjut Pak Edi, Gudang Hijau dulunya bernama PT.Cipta Niaga. PT.Cipta Niaga khusus mengurusi penampungan beras bulog (beras yang didistribusikan untuk golongan tidak mampu). Sekarang PT.Cipta Niaga telah berpindah tempat di batu 5 atas. Sejak kepindahan PT. Cipta Niaga, Gudang Hijau menjadi terbengkalai. Orang yang bertanggung jawab untuk urusan kebersihan tidak ada lagi yang bisa dihubungi. Gudang Hijau menjadi tidak terawat, catnya memudar terkena paparan sinar matahari dan hujan badai selama bertahun-tahun. Untungnya, Gudang Hijau dibangun menggunakan material yang sangat baik kualitasnya. Dinding Gudang Hijau dibangun dari baja yang sangat kuat meski dimakan usia. Tidak ada tanda-tanda kerusakan pada dindingnya, selain warna catnya yang dulu hijau kini menjadi karat. Puluhan atau bahkan ratusan tahun tahun yang lalu, tidak akan ada yang menyangka bahwa Gudang Hijau pernah dijadikan sebagai tempat penampungan warga Vietnam. Namun kisah penampungan Vietnam ini tidak banyak diketahui oleh warga sekitar, terlebih lagi yang tinggal di dekat Gudang Hijau. Kebanyakan dari mereka adalah pendatang, sehingga sejarah Gudang Hijau masih jauh untuk diambil keterangannya.

Setelah beralih fungsi dari penampungan Vietnam dan penyimpanan beras bulog, Gudang Hijau juga pernah dibuka dan disewakan sebagai lapangan badminton. Menurut cerita isi dalam Gudang Hijau sangat luas. Saat pengalihfungsiannya menjadi lapangan untuk umum, Gudang Hijau menjadi sering didatangi warga untuk bermain badminton. Namun lagi-lagi, sudah 3 tahun terakhir ini kawasan Gudang Hijau ditutup sebagai sarana olahraga dan hingga kini ditutup dan kian diabaikan. Pemegang kunci Gudang Hijau juga telah berganti, yaitu seorang Tionghoa yang menetap di Pekanbaru dan sampai sekarang tak bisa dimintai pertanggungjawaban tentang upah membersihkan lahan di sekitar Gudang Hijau.

"Untung kami mengadakan kegiatan PKK dengan membuat kebun dan mendirikan bank sampah di samping Gudang Hijau. Kalau tidak, siapa lagi yang merawat," ujar Bu Maryam. Gudang Hijau sejatinya sudah ingin disewa dan digunakan kembali oleh toko bangunan yang letaknya tepat di depan Gudang Hijau. Namun karena biaya sewanya yang sangat mahal yaitu 80 juta setahun, maka Gudang Hijau ditinggalkan dan kini tak seorang pun tau bagaimana isi dalamnya setelah tidak diurus bertahun-tahun. Pajak Bumi dan Bangunan Gudang Hijau pun sudah lama tidak dibayar, hingga orang Pajak datang menagih sedangkan minimnya jalinan komunikasi antara pemegang kunci dan warga sekitar membuat Gudang Hijau tak lagi digunakan semestinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar