Gudang Hijau Peninggalan Jepang
Tanjungunggat
(NHY) - Siapa sangka gedung hijau yang berdiri kokoh di kawasan Tanjungunggat
ini dulunya dikelilingi laut dan hutan bakau. Warga asli yang mendiami daerah
tersebut juga sekarang sulit dicari karena sudah berganti generasi. Gudang
hijau pada awalnya adalah sebuah gedung berwarna hijau yang didirikan oleh
orang Jepang (yang hingga kini tidak diketahui namanya). Gudang tersebut
didirikan di atas tanah leluhur salah seorang ketua RT yang bernama Edi
Nafianto. "Tidak jelas siapa yang punya. Bayangkan saja sudah berapa lama.
Dulu waktu saya lahir 53 tahun yang lalu, gudang itu sudah ada dan
dipakai," sahut Pak Edi, sapaan akrabnya.
Gudang
Hijau telah berdiri sangat lama, saat Indonesia masih menggunakan mata uang
sen. "Zaman dulu orang tua-tua belum kenal baca tulis. Jadi tanah
seenaknya saja dimanfaatkan orang yang berkuasa," tukas Pak Edi, sapaan
akrabnya. Menurut kepercayaan, daerah Gudang Hijau merupakan kawasan angker
yang dihuni oleh sesosok jelmaan laki-laki hitam tinggi. Konon, tingginya
menyamai Gudang Hijau tersebut. Selain banyaknya warga yang melihat penampakan,
ada juga sesekali yang hanya lewat dan kena 'teguran' makhluk halus. Maryam,
istri Pak Edi yang juga membudidayakan apotik hidup di depan Gudang Hijau
menambahkan, "Dulu selepas maghrib, tak pernah ada orang yang berani lewat
di depan Gudang Hijau,". Pak Edi juga merasakan kehadiran makhluk lain
yang ikut menjaga Gudang Hijau itu yaitu sosok wanita yang memilik rambut
sangat panjang. Apabila rambutnya terurai, panjangnya sudah setinggi Gudang
Hijau. Belum lagi jika ia berdiri dan menampakkan wujudnya, seperti raksasa.
Warga sekitar mempercayai bahwa keberadaan makhluk yang menghuni di dalam
Gudang Hijau tidak bermaksud untuk mengganggu warga. Mereka hanya bagian dari
penjaga yang menginginkan Gudang Hijau tetap asri dan terawat.
Lanjut
Pak Edi, Gudang Hijau dulunya bernama PT.Cipta Niaga. PT.Cipta Niaga khusus
mengurusi penampungan beras bulog (beras yang didistribusikan untuk golongan
tidak mampu). Sekarang PT.Cipta Niaga telah berpindah tempat di batu 5 atas.
Sejak kepindahan PT. Cipta Niaga, Gudang Hijau menjadi terbengkalai. Orang yang
bertanggung jawab untuk urusan kebersihan tidak ada lagi yang bisa dihubungi.
Gudang Hijau menjadi tidak terawat, catnya memudar terkena paparan sinar
matahari dan hujan badai selama bertahun-tahun. Untungnya, Gudang Hijau
dibangun menggunakan material yang sangat baik kualitasnya. Dinding Gudang
Hijau dibangun dari baja yang sangat kuat meski dimakan usia. Tidak ada
tanda-tanda kerusakan pada dindingnya, selain warna catnya yang dulu hijau kini
menjadi karat. Puluhan atau bahkan ratusan tahun tahun yang lalu, tidak akan
ada yang menyangka bahwa Gudang Hijau pernah dijadikan sebagai tempat
penampungan warga Vietnam. Namun kisah penampungan Vietnam ini tidak banyak
diketahui oleh warga sekitar, terlebih lagi yang tinggal di dekat Gudang Hijau.
Kebanyakan dari mereka adalah pendatang, sehingga sejarah Gudang Hijau masih
jauh untuk diambil keterangannya.
Setelah
beralih fungsi dari penampungan Vietnam dan penyimpanan beras bulog, Gudang
Hijau juga pernah dibuka dan disewakan sebagai lapangan badminton. Menurut
cerita isi dalam Gudang Hijau sangat luas. Saat pengalihfungsiannya menjadi
lapangan untuk umum, Gudang Hijau menjadi sering didatangi warga untuk bermain
badminton. Namun lagi-lagi, sudah 3 tahun terakhir ini kawasan Gudang Hijau
ditutup sebagai sarana olahraga dan hingga kini ditutup dan kian diabaikan.
Pemegang kunci Gudang Hijau juga telah berganti, yaitu seorang Tionghoa yang
menetap di Pekanbaru dan sampai sekarang tak bisa dimintai pertanggungjawaban
tentang upah membersihkan lahan di sekitar Gudang Hijau.
"Untung
kami mengadakan kegiatan PKK dengan membuat kebun dan mendirikan bank sampah di
samping Gudang Hijau. Kalau tidak, siapa lagi yang merawat," ujar Bu
Maryam. Gudang Hijau sejatinya sudah ingin disewa dan digunakan kembali oleh
toko bangunan yang letaknya tepat di depan Gudang Hijau. Namun karena biaya
sewanya yang sangat mahal yaitu 80 juta setahun, maka Gudang Hijau ditinggalkan
dan kini tak seorang pun tau bagaimana isi dalamnya setelah tidak diurus
bertahun-tahun. Pajak Bumi dan Bangunan Gudang Hijau pun sudah lama tidak
dibayar, hingga orang Pajak datang menagih sedangkan minimnya jalinan komunikasi
antara pemegang kunci dan warga sekitar membuat Gudang Hijau tak lagi digunakan
semestinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar