Dari
Berjualan Daun Pisang, Hingga Diusir dari Barisan Parade
TANJUNGPINANG
(NHY) - Siapa sangka, Wakil Bupati Bintan yang memiliki 3 orang anak ini
mengarungi sulitnya hidup sebelum mencapai kesuksesan. "Dulu saya mau
berpikir bisa sekolah aja enggak," tukasnya. Pak Zalik mengaku, Ia bukan
berasal dari keluarga yang berada. Jangankan memikirkan cita-cita, bisa sekolah
saja sudah bersyukur. "Setelah tamat SD, saya menumpang dengan keluarga
hingga akhirnya saya masuk SMP dan SMA. Tamat SMA, saya ikut kuliah
gratis," katanya sambil tersenyum. Sembari matanya menerawang, mencoba
mengingat-ingat lagi kenangan masa kecilnya, Pak Zalik mulai bercerita. Lelaki
paruh baya kelahiran Terempa ini melewatkan masa kecilnya di Pulau Antang.
Semasa kecil, Ia dan teman-temannya harus menghadapi rintangan untuk dapat
sampai di sekolah.
Dijumpai
selepas menjalankan shalat tarawih bersama keluarga di Kampung Banjar, Desa
Gunung Kijang, Drs. Khazalik mengenakan baju koko berwarna putih. Sambil
menghisap sebatang rokok, Pak Zalik (sebutan akrabnya) duduk di sebuah teras
yang berada di samping rumahnya. Teras ini dilengkapi dengan beberapa kursi dan
meja. Biasanya, Pak Zalik menggunakan tempat ini untuk bersantai sembari main
domino dengan rekan atau sanak saudara yang mengunjungi kediamannya.
Dengan
sedikit gerakan santai, Pak Zalik mengisahkan perjalanan hidupnya ketika
bersekolah. "Saya jalan kaki sekitar satu setengah jam," lanjutnya,
"Jalannya dalam hutan. Ada lubang batu yang menganga. Kalau ada orang yang
terpeleset masuk ke dalam lubang itu, meninggal pun tak ada yang tahu,".
Jalanan hutan yang terkadang licin membuatnya terus berhati-hati agar tidak
terperosok. Hutan menjadi lalu lintas rutinnya menuju ke sekolah.Pak Zalik
telah membiasakan hidup mandiri sejak Ia masih duduk di bangku sekolah.
"Pagi-pagi saya harus masak untuk sarapan, untuk bekal ke sekolah juga.
Sorenya, saya sudah harus mencari daun ubi, daun pisang, kemiri. Saya jual ke
pasar terempa dan uangnya saya ambil setelah saya pulang sekolah," ujarnya
sambil menyeruput kopi hitamnya.
Mengenai
pengalaman yang tak terlupakan, Pak Zalik ingat betul ketika Ia diusir dari
barisan parade untuk peringatan 17 Agustus yang ada di sekolahnya. Beberapa
kali latihan, Pak Zalik tidak mengenakan seragam dan sepatu yang diminta.
Beliau mengumpulkan uang terlebih dahulu dengan menjual serai dan sejenisnya ke
pasar. Ketika uang tabungan telah mencukupi, Pak Zalik membeli sepatu dan
seragam hasil jerih payahnya. Namun Ia justru dikeluarkan tanpa pemberitahuan
dikarenakan Ia tidak memakai seragam pada saat latihan. Hatinya sangat terpukul
mengingat ketidakberdayaannya saat itu namun Ia tidak ingin adanya dendam di
masa lalu sehingga Ia berusaha membuang jauh perasaan sakit yang didapatnya
hanya karena tidak memakai seragam serupa teman-temannya.
Di
bidang birokrat, Pak Zalik memiliki SK mutasi sebanyak 22 buah. "Ya itu
menambah perbendaharaan, menambah pengalaman. Jadi kita lebih mengetahui seluk
beluk pekerjaan," kata Pak Zalik. Namun hikmahnya, selama rentang waktu
perpindahan tersebut Pak Zalik sangat tertarik di Dinas Pariwisata. Menurutnya,
Dinas Pariwisata merupakan sektor yang menjadi kekuatan di Bintan.
Potensi-potensi yang ada di Bintan semestinya dikembangkan, mengingat pendatang
asing semakin menjamur setiap tahunnya. Untuk itu, Pak Zalik menyatakan bahwa
Pariwisata bisa menjadi Generating Sector yang jika dibudidayakan bisa
mendukung sektor-sektor lain seperti sektor perdagangan dan perhubungan agar
ikut berkembang. Kenaikan jumlah turis yang memilih destinasi pariwisata di
Bintan juga menjadi pemicu alasan mengapa masyarakat Bintan harus segera
melakukan tindakan menjaga kelestarian alam. Keamanan dan kebersihan lingkungan
harus diperhatikan. Jika ada wabah penyakit maka turis akan enggan untuk
datang. "Secara bertahap, masyarakat Bintan telah memahami bahwa daerahnya
adalah tujuan wisata. Kita tidak bisa mengubah mindset orang secara tiba-tiba.
Bagaimana masyarakat bisa memahami kemajuan sektor pariwisata itu harus dipicu
dan dipacu," tegas Pak Zalik.
Berbicara
mengenai kedekatannya dengan Ansar Ahmad selaku Bupati Bintan, Pak Zalik
menganggapnya sebagai partner yang luar biasa. "Ajakan yang Dia (Ansar
Ahmad, red) lakukan bagi saya itu adalah sebuah amanat, karena saya hanya
bawahan. Alasan kedua karena saya rasa saya mampu membantu Beliau dan saya bisa
bekerjasama dengan Beliau," sahut Pak Zalik. Walaupun terkadang timbul
anggapan, bahwa tugas seorang wakil hanyalah berupa status fungsional yakni
menggantikan Bupati ketika Beliau berhalangan hadir. Pak Zalik tidak menampik
anggapan tersebut, mengingat itu merupakan bagian dari kerjasamanya dengan
sosok sang Bupati. "Memang tugas wakil adalah menjalankan apa yang telah
diatur oleh Undang-Undang. Salah satu tugas tersebut adalah tugas lain yang
diberikan oleh Bupati," lanjutnya, "Tapi saya merasakan enjoy karena
meskipun tidak terurai, tugas apapun yang dianggap baik bagi daerah ini
(Bintan, red) dan organisasi pemerintahan dalam berkoordinasi atau memberikan
arahan saya telah leluasa namun tetap membatasi tugas-tugas tertentu, karena
saya bukan Bupati,".
Lebih
jauh, perbedaan pendapat yang sering terjadi antara Khazalik dan Ansar Ahmad
dianggapnya sebagai hal yang manusiawi. Lain kepala, maka lain pula cara
berpikirnya. Tetapi itu bukan menjadi persoalan. Kuncinya, Pak Zalik menerapkan
pepatah Tidak Mungkin Ada Dua Nakhoda dalam Dua Kapal, artinya tidak ada dua
kepemimpinan dalam satu waktu. Ada penggerak dan ada pelaksana. Dalam konsep
bekerja sama seperti itu pun masing-masing perlu memahami tujuan, memiliki
motivasi yang kuat, mampu menggerakkan potensi wilayah dan mau mendengarkan.
Jika keempat aspek itu bisa dijalankan, maka keberhasilan yang akan didapat.
Tak
hanya berkonsisten dalam pekerjaan, pribadi Khazalik juga memiliki kharisma.
Dengan gaya bicara yang sedikit serak dan merendah, membuat kewibawaannya
sebagai Wakil Bupati semakin terlihat. Disamping itu, kesuksesan yang
diperolehnya tak lain hasil dari dukungan anggota keluarganya. Anak-anak sering
mengeluh tentang waktu pertemuan dengan ayahnya sangat sempit, namun Pak Zalik
selalu memberikan pengertian untuk tetap bersabar karena jika ada waktu
senggang pastilah dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk keluarga. Hal tersebut yang
membuat pecinta olahraga golf ini memantapkan niatnya untuk optimis melaju
sebagai Calon Bupati di Periode mendatang. Baginya, keseimbangan antara jabatan
dan keluarga sama-sama penting dalam mendukung perjalanan karirnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar