Selasa, 09 Juni 2015

Dari Berjualan Daun Pisang, Hingga Diusir dari Barisan Parade




Dari Berjualan Daun Pisang, Hingga Diusir dari Barisan Parade

TANJUNGPINANG (NHY) - Siapa sangka, Wakil Bupati Bintan yang memiliki 3 orang anak ini mengarungi sulitnya hidup sebelum mencapai kesuksesan. "Dulu saya mau berpikir bisa sekolah aja enggak," tukasnya. Pak Zalik mengaku, Ia bukan berasal dari keluarga yang berada. Jangankan memikirkan cita-cita, bisa sekolah saja sudah bersyukur. "Setelah tamat SD, saya menumpang dengan keluarga hingga akhirnya saya masuk SMP dan SMA. Tamat SMA, saya ikut kuliah gratis," katanya sambil tersenyum. Sembari matanya menerawang, mencoba mengingat-ingat lagi kenangan masa kecilnya, Pak Zalik mulai bercerita. Lelaki paruh baya kelahiran Terempa ini melewatkan masa kecilnya di Pulau Antang. Semasa kecil, Ia dan teman-temannya harus menghadapi rintangan untuk dapat sampai di sekolah.
Dijumpai selepas menjalankan shalat tarawih bersama keluarga di Kampung Banjar, Desa Gunung Kijang, Drs. Khazalik mengenakan baju koko berwarna putih. Sambil menghisap sebatang rokok, Pak Zalik (sebutan akrabnya) duduk di sebuah teras yang berada di samping rumahnya. Teras ini dilengkapi dengan beberapa kursi dan meja. Biasanya, Pak Zalik menggunakan tempat ini untuk bersantai sembari main domino dengan rekan atau sanak saudara yang mengunjungi kediamannya.
Dengan sedikit gerakan santai, Pak Zalik mengisahkan perjalanan hidupnya ketika bersekolah. "Saya jalan kaki sekitar satu setengah jam," lanjutnya, "Jalannya dalam hutan. Ada lubang batu yang menganga. Kalau ada orang yang terpeleset masuk ke dalam lubang itu, meninggal pun tak ada yang tahu,". Jalanan hutan yang terkadang licin membuatnya terus berhati-hati agar tidak terperosok. Hutan menjadi lalu lintas rutinnya menuju ke sekolah.Pak Zalik telah membiasakan hidup mandiri sejak Ia masih duduk di bangku sekolah. "Pagi-pagi saya harus masak untuk sarapan, untuk bekal ke sekolah juga. Sorenya, saya sudah harus mencari daun ubi, daun pisang, kemiri. Saya jual ke pasar terempa dan uangnya saya ambil setelah saya pulang sekolah," ujarnya sambil menyeruput kopi hitamnya.
Mengenai pengalaman yang tak terlupakan, Pak Zalik ingat betul ketika Ia diusir dari barisan parade untuk peringatan 17 Agustus yang ada di sekolahnya. Beberapa kali latihan, Pak Zalik tidak mengenakan seragam dan sepatu yang diminta. Beliau mengumpulkan uang terlebih dahulu dengan menjual serai dan sejenisnya ke pasar. Ketika uang tabungan telah mencukupi, Pak Zalik membeli sepatu dan seragam hasil jerih payahnya. Namun Ia justru dikeluarkan tanpa pemberitahuan dikarenakan Ia tidak memakai seragam pada saat latihan. Hatinya sangat terpukul mengingat ketidakberdayaannya saat itu namun Ia tidak ingin adanya dendam di masa lalu sehingga Ia berusaha membuang jauh perasaan sakit yang didapatnya hanya karena tidak memakai seragam serupa teman-temannya.
Di bidang birokrat, Pak Zalik memiliki SK mutasi sebanyak 22 buah. "Ya itu menambah perbendaharaan, menambah pengalaman. Jadi kita lebih mengetahui seluk beluk pekerjaan," kata Pak Zalik. Namun hikmahnya, selama rentang waktu perpindahan tersebut Pak Zalik sangat tertarik di Dinas Pariwisata. Menurutnya, Dinas Pariwisata merupakan sektor yang menjadi kekuatan di Bintan. Potensi-potensi yang ada di Bintan semestinya dikembangkan, mengingat pendatang asing semakin menjamur setiap tahunnya. Untuk itu, Pak Zalik menyatakan bahwa Pariwisata bisa menjadi Generating Sector yang jika dibudidayakan bisa mendukung sektor-sektor lain seperti sektor perdagangan dan perhubungan agar ikut berkembang. Kenaikan jumlah turis yang memilih destinasi pariwisata di Bintan juga menjadi pemicu alasan mengapa masyarakat Bintan harus segera melakukan tindakan menjaga kelestarian alam. Keamanan dan kebersihan lingkungan harus diperhatikan. Jika ada wabah penyakit maka turis akan enggan untuk datang. "Secara bertahap, masyarakat Bintan telah memahami bahwa daerahnya adalah tujuan wisata. Kita tidak bisa mengubah mindset orang secara tiba-tiba. Bagaimana masyarakat bisa memahami kemajuan sektor pariwisata itu harus dipicu dan dipacu," tegas Pak Zalik.
Berbicara mengenai kedekatannya dengan Ansar Ahmad selaku Bupati Bintan, Pak Zalik menganggapnya sebagai partner yang luar biasa. "Ajakan yang Dia (Ansar Ahmad, red) lakukan bagi saya itu adalah sebuah amanat, karena saya hanya bawahan. Alasan kedua karena saya rasa saya mampu membantu Beliau dan saya bisa bekerjasama dengan Beliau," sahut Pak Zalik. Walaupun terkadang timbul anggapan, bahwa tugas seorang wakil hanyalah berupa status fungsional yakni menggantikan Bupati ketika Beliau berhalangan hadir. Pak Zalik tidak menampik anggapan tersebut, mengingat itu merupakan bagian dari kerjasamanya dengan sosok sang Bupati. "Memang tugas wakil adalah menjalankan apa yang telah diatur oleh Undang-Undang. Salah satu tugas tersebut adalah tugas lain yang diberikan oleh Bupati," lanjutnya, "Tapi saya merasakan enjoy karena meskipun tidak terurai, tugas apapun yang dianggap baik bagi daerah ini (Bintan, red) dan organisasi pemerintahan dalam berkoordinasi atau memberikan arahan saya telah leluasa namun tetap membatasi tugas-tugas tertentu, karena saya bukan Bupati,".
Lebih jauh, perbedaan pendapat yang sering terjadi antara Khazalik dan Ansar Ahmad dianggapnya sebagai hal yang manusiawi. Lain kepala, maka lain pula cara berpikirnya. Tetapi itu bukan menjadi persoalan. Kuncinya, Pak Zalik menerapkan pepatah Tidak Mungkin Ada Dua Nakhoda dalam Dua Kapal, artinya tidak ada dua kepemimpinan dalam satu waktu. Ada penggerak dan ada pelaksana. Dalam konsep bekerja sama seperti itu pun masing-masing perlu memahami tujuan, memiliki motivasi yang kuat, mampu menggerakkan potensi wilayah dan mau mendengarkan. Jika keempat aspek itu bisa dijalankan, maka keberhasilan yang akan didapat.
Tak hanya berkonsisten dalam pekerjaan, pribadi Khazalik juga memiliki kharisma. Dengan gaya bicara yang sedikit serak dan merendah, membuat kewibawaannya sebagai Wakil Bupati semakin terlihat. Disamping itu, kesuksesan yang diperolehnya tak lain hasil dari dukungan anggota keluarganya. Anak-anak sering mengeluh tentang waktu pertemuan dengan ayahnya sangat sempit, namun Pak Zalik selalu memberikan pengertian untuk tetap bersabar karena jika ada waktu senggang pastilah dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk keluarga. Hal tersebut yang membuat pecinta olahraga golf ini memantapkan niatnya untuk optimis melaju sebagai Calon Bupati di Periode mendatang. Baginya, keseimbangan antara jabatan dan keluarga sama-sama penting dalam mendukung perjalanan karirnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar