Semangat Besar Si Tukang Sapu Jalan
Raya
Saat
matahari belum menjelma, terdengar suara sapu yang diayunkan oleh seorang
wanita tua. Panas, berdebu dan tanpa masker itulah yang dialaminya setiap hari.
Terik matahari yang menyengat kulit, cucuran keringat yang mengalir membasahi
tubuhnya tidak menyurutkan semangat untuk meneruskan pekerjaannya menyapu
jalan. Hanya sisa-sisa rasa lelah yang ada tergambar di raut wajah keriputnya,
melangkah menuju lampu merah di Pamedan.
Wajahnya selalu tampak gembira, tak
pernah ia terlihat perasaan sedih. Senyum, ramah dan wajah riang selalu
ia perlihatkan kepada semua orang. Tak pernah ia meminta belas kasihan kepada
orang lain. Hari-harinya ia jalani dengan penuh semangat. Tak pernah ia
mengeluh apalagi berputus asa. Ia selalu menjalankan pekerjaannya dengan
sungguh-sungguh, meskipun banyak orang mengatakan pekerjaan itu sangat rendah.
Bagi ia apapun pekerjaannya, harus selalu dijalankan dengan sebaik mungkin.
Keseriusan
seseorang untuk bekerja ibarat menolak balik arah ombak yang menerpa. Mery (53)
adalah seorang wanita tua yang sehari-harinya bekerja mencari nafkah sebagai
tukang sapu jalan di area Pamedan. Pekerjaannya itu ia mulai pada pukul 06.00
WIB sampai pukul 19.00 WIB. Dalam 1 hari ibu Mery menyapu hanya 2 kali yaitu
pada pagi hari dan sore hari.
Selama 15 tahun wanita
yang kerap disapa Mery bekerja sebagai penyapu jalan dengan menggunakan seragam
hijau. Untuk menempuh tempat kerja ia harus berjalan kaki selama 15 menit. Ya inilah sekilas sosok Mery yang
bekerja menjadi tukang sapu jalan yang letaknya di jalan Raja Ali Haji.
Kendala
yang sering ia hadapi yaitu ketika angin kencang, biasanya sampah yang sudah
dikumpulkan berserakan, kemudian disapu dan dikumpulkan kembali. Ketika musim
hujan datang sampah semakin banyak dibawa air dan agak sulit untuk disapu.
Itulah yang menjadi kendala bagi wanita yang sudah tampak keriput.
Wanita
tua ini menaungi kehidupan dengan sendirinya, karena sejak 3 tahun yang lalu ia
telah ditinggalkan oleh suaminya dikarenakan sakit dan ia tidak mempunyai anak,
itulah yang membuat wanita tua ini semakin merasa kesepian. Wanita tua ini
sempat stress dengan keadaan yang dialaminya pada saat itu, ia selalu merasakan
kesepian yang mendalam sejak kepergian suaminya. Tetapi rasa itu telah hilang
seiring berjalannya waktu.
Kehidupan yang serba
berkecukupan, tak membuat perempuan yang berprofesi sebagai tukang sapu jalan
ini patah semangat. Karena setiap
bulan Mery diberi gaji sebesar 1 juta. Berapapun hasil yang Mery peroleh, Mery tetap mensyukurinya. Karena bekerja adalah
bukan semata-mata bagaimana Mery
dapat menghasilkan uang dari tukang sapu, namun juga bagaimana Mery dapat membantu orang lain.
Wanita yang sudah tampak keriput ini rela
menjadi tukang sapu jalan demi mencukupi kebutuhannya sehari-hari. “Saya lebih
baik menjadi penjual makanan di angkringan atau penjual kelas rendah dari pada
saya tidak melakukan perkerjaan sama sekali. Saya tidak memikirkan untung rugi
dagangan saya, yang penting dagangan saya laku semuanya” ungkap Sumarni.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar