Selasa, 09 Juni 2015

Semangat Besar Si Tukang Sapu Jalan Raya



                       
Semangat Besar Si Tukang Sapu Jalan Raya

Saat matahari belum menjelma, terdengar suara sapu yang diayunkan oleh seorang wanita tua. Panas, berdebu dan tanpa masker itulah yang dialaminya setiap hari. Terik matahari yang menyengat kulit, cucuran keringat yang mengalir membasahi tubuhnya tidak menyurutkan semangat untuk meneruskan pekerjaannya menyapu jalan. Hanya sisa-sisa rasa lelah yang ada tergambar di raut wajah keriputnya, melangkah menuju lampu merah di Pamedan.
Wajahnya selalu tampak gembira, tak pernah ia  terlihat perasaan sedih. Senyum, ramah dan wajah riang selalu ia perlihatkan kepada semua orang. Tak pernah ia meminta belas kasihan kepada orang lain. Hari-harinya ia jalani dengan penuh semangat. Tak pernah ia mengeluh apalagi berputus asa. Ia selalu menjalankan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh, meskipun banyak orang mengatakan pekerjaan itu sangat rendah. Bagi ia apapun pekerjaannya, harus selalu dijalankan dengan sebaik mungkin.

Keseriusan seseorang untuk bekerja ibarat menolak balik arah ombak yang menerpa. Mery (53) adalah seorang wanita tua yang sehari-harinya bekerja mencari nafkah sebagai tukang sapu jalan di area Pamedan. Pekerjaannya itu ia mulai pada pukul 06.00 WIB sampai pukul 19.00 WIB. Dalam 1 hari ibu Mery menyapu hanya 2 kali yaitu pada pagi hari dan sore hari.
Selama 15 tahun wanita yang kerap disapa Mery bekerja sebagai penyapu jalan dengan menggunakan seragam hijau. Untuk menempuh tempat kerja ia harus berjalan kaki selama 15  menit. Ya inilah sekilas sosok Mery yang bekerja menjadi tukang sapu jalan yang letaknya di jalan Raja Ali Haji.
Kendala yang sering ia hadapi yaitu ketika angin kencang, biasanya sampah yang sudah dikumpulkan berserakan, kemudian disapu dan dikumpulkan kembali. Ketika musim hujan datang sampah semakin banyak dibawa air dan agak sulit untuk disapu. Itulah yang menjadi kendala bagi wanita yang sudah tampak keriput.
Wanita tua ini menaungi kehidupan dengan sendirinya, karena sejak 3 tahun yang lalu ia telah ditinggalkan oleh suaminya dikarenakan sakit dan ia tidak mempunyai anak, itulah yang membuat wanita tua ini semakin merasa kesepian. Wanita tua ini sempat stress dengan keadaan yang dialaminya pada saat itu, ia selalu merasakan kesepian yang mendalam sejak kepergian suaminya. Tetapi rasa itu telah hilang seiring berjalannya waktu.
Kehidupan yang serba berkecukupan, tak membuat perempuan yang berprofesi sebagai tukang sapu jalan ini patah semangat. Karena setiap bulan Mery diberi gaji sebesar 1 juta. Berapapun hasil yang Mery peroleh, Mery  tetap mensyukurinya. Karena bekerja adalah bukan semata-mata bagaimana Mery dapat menghasilkan uang dari tukang sapu, namun juga bagaimana Mery dapat membantu orang lain.

 Wanita yang sudah tampak keriput ini rela menjadi tukang sapu jalan demi mencukupi kebutuhannya sehari-hari. “Saya lebih baik menjadi penjual makanan di angkringan atau penjual kelas rendah dari pada saya tidak melakukan perkerjaan sama sekali. Saya tidak memikirkan untung rugi dagangan saya, yang penting dagangan saya laku semuanya” ungkap Sumarni.



           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar