Musim
Pancaroba, RSUP Kepri Tingkatkan Pelayanan
TANJUNGPINANG
(NHY) - Masa pancaroba biasa ditandai dengan tingginya frekuensi badai, hujan
yang sangat deras disertai guruh, serta angin yang bertiup kencang. Pada masa
pancaroba, frekuensi orang yang menderita penyakit saluran pernapasan atas,
seperti pilek atau batuk relatif meningkat. Hal serupa juga dialami oleh
pasien-pasien yang berobat di Rumah Sakit Umum Provinsi Kepulauan Riau. Mereka
mengeluhkan beberapa penyakit serius yang dialami sejak 3 bulan terakhir.
Syarif,
selaku Kasubag Rekamedik RSUP Kepri mengatakan bahwa pada periode bulan Mei
2015 telah tercatat laporan mengenai 10 penyakit terbesar rawat inap. Dari data
kasus baru yang diterima, pasien yang menderita penyakit-penyakit tersebut kebanyakan
adalah laki-laki yaitu 100 orang, sementara pasien perempuan hanya sejumlah 80
orang. Pada peringkat pertama diduduki oleh kelahiran, peringkat kedua yaitu
demam berdarah, disusul penyakit-penyakit lain seperti tifus, anemia dan
tekanan darah tinggi. Dari hasil tersebut, demam berdarah diklaim sebagai
penyakit yang paling banyak diderita sepanjang bulan Mei 2015. Ada 22 pasien
yang menjalani rawat inap dan mendapat penanganan dari ahli medis.
Menurut
Syarif, jumlah pasien yang melakukan pengobatan di RSUP Kepri meningkat
signifikan. Tahun 2012 pasien yang terdaftar adalah 2000 orang, di tahun 2013
menjadi 2300 orang dan di tahun 2014 ada sekitar 2900 orang yang sudah
menjalani perawatan baik untuk penyakit umum maupun yang harus melibatkan
dokter spesialis. Di pertengahan 2015 ini, kenaikan jumlah kunjungan pasien
diperkirakan sekitar 200-300 persen setiap bulannya.
Rumah
Sakit yang telah diresmikan dan mulai beroperasi sejak 29 Februari 2012 ini
menekankan misi yakni memberi pelayanan yang prima, merata, terjangkau dan
berkeadilan maka semakin banyak tantangan yang harus dihadapi para dokter dan
pegawai yang bertugas melayani masyarakat dengan sepenuh hati. Sebagaimana
perencanaannya terdahulu, ada 8 lantai di RSUP Kepri ini namun baru 4 lantai
yang telah difungsikan hingga sekarang. Untuk penanganan lebih lanjut terkait
pasien yang dirujuk ke rumah sakit lain, pihak RSUP Kepri menyatakan bahwa
kendala yang dihadapi terdapat pada ruang rawat inap yang penuh dikarenakan
RSUP Kepri hanya memiliki 78 tempat tidur yang digunakan untuk pasien rawat
inap.
Berbincang
mengenai pelayanan di RSUP Kepri, keramah tamahan sangat dipentingkan.
"Adanya komplain-komplain masyarakat yang berkenaan dengan lamanya waktu
tunggu atau kurang mengertinya alur yang ada di rumah sakit itu kami lakukan
evaluasi. Variasi pasien disini sangat heterogen, maka kita harus pandai
melihat dan membaca logat agar tahu darimana pasien berasal. Dengan mempelajari
logat, masalah dapat dilegalisir. Seluruh pegawai di Rumah Sakit adalah pelayan.
Pelayan harus banyak mendengar, bekerja dan banyak menurut. Kondisi mentalnya
harus lebih stabil dibanding pasien," ujar Syarif. Melalui Excellent
Service, RSUP Kepri berharap kinerja dan pelayanan akan terus ditingkatkan demi
mendapat kepuasaan dan kesembuhan pasien.
TANJUNGPINANG
(NHY) - Masa pancaroba biasa ditandai dengan tingginya frekuensi badai, hujan
yang sangat deras disertai guruh, serta angin yang bertiup kencang. Pada masa
pancaroba, frekuensi orang yang menderita penyakit saluran pernapasan atas,
seperti pilek atau batuk relatif meningkat. Hal serupa juga dialami oleh
pasien-pasien yang berobat di Rumah Sakit Umum Provinsi Kepulauan Riau. Mereka
mengeluhkan beberapa penyakit serius yang dialami sejak 3 bulan terakhir.
Syarif,
selaku Kasubag Rekamedik RSUP Kepri mengatakan bahwa pada periode bulan Mei
2015 telah tercatat laporan mengenai 10 penyakit terbesar rawat inap. Dari data
kasus baru yang diterima, pasien yang menderita penyakit-penyakit tersebut kebanyakan
adalah laki-laki yaitu 100 orang, sementara pasien perempuan hanya sejumlah 80
orang. Pada peringkat pertama diduduki oleh kelahiran, peringkat kedua yaitu
demam berdarah, disusul penyakit-penyakit lain seperti tifus, anemia dan
tekanan darah tinggi. Dari hasil tersebut, demam berdarah diklaim sebagai
penyakit yang paling banyak diderita sepanjang bulan Mei 2015. Ada 22 pasien
yang menjalani rawat inap dan mendapat penanganan dari ahli medis.
Menurut
Syarif, jumlah pasien yang melakukan pengobatan di RSUP Kepri meningkat
signifikan. Tahun 2012 pasien yang terdaftar adalah 2000 orang, di tahun 2013
menjadi 2300 orang dan di tahun 2014 ada sekitar 2900 orang yang sudah
menjalani perawatan baik untuk penyakit umum maupun yang harus melibatkan
dokter spesialis. Di pertengahan 2015 ini, kenaikan jumlah kunjungan pasien
diperkirakan sekitar 200-300 persen setiap bulannya.
Rumah
Sakit yang telah diresmikan dan mulai beroperasi sejak 29 Februari 2012 ini
menekankan misi yakni memberi pelayanan yang prima, merata, terjangkau dan
berkeadilan maka semakin banyak tantangan yang harus dihadapi para dokter dan
pegawai yang bertugas melayani masyarakat dengan sepenuh hati. Sebagaimana
perencanaannya terdahulu, ada 8 lantai di RSUP Kepri ini namun baru 4 lantai
yang telah difungsikan hingga sekarang. Untuk penanganan lebih lanjut terkait
pasien yang dirujuk ke rumah sakit lain, pihak RSUP Kepri menyatakan bahwa
kendala yang dihadapi terdapat pada ruang rawat inap yang penuh dikarenakan
RSUP Kepri hanya memiliki 78 tempat tidur yang digunakan untuk pasien rawat
inap.
Berbincang
mengenai pelayanan di RSUP Kepri, keramah tamahan sangat dipentingkan.
"Adanya komplain-komplain masyarakat yang berkenaan dengan lamanya waktu
tunggu atau kurang mengertinya alur yang ada di rumah sakit itu kami lakukan
evaluasi. Variasi pasien disini sangat heterogen, maka kita harus pandai
melihat dan membaca logat agar tahu darimana pasien berasal. Dengan mempelajari
logat, masalah dapat dilegalisir. Seluruh pegawai di Rumah Sakit adalah pelayan.
Pelayan harus banyak mendengar, bekerja dan banyak menurut. Kondisi mentalnya
harus lebih stabil dibanding pasien," ujar Syarif. Melalui Excellent
Service, RSUP Kepri berharap kinerja dan pelayanan akan terus ditingkatkan demi
mendapat kepuasaan dan kesembuhan pasien.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar